BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
INFARK MIOKARD AKUT (IMA)
1. PENGERTIAN
Infark miokard akut adalah nekrosis miokard
akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. (Suyono, 2013)
Infark Miokard Akut (IMA) adalah terjadinya
nekrosis miokard yang cepat disebabkan oleh karena ketidakseimbangan yang
kritis antara aliran darah dan kebutuhan darah miokard. (Morton, 2012)
Infark myokardium merupakan blok total yang
mendadak dari arteri koroner besar atau cabang-cabangnya. Lamanya kerusakan
myocardial bervariasi dan bergantung kepada besar daerah yang diperfusi oleh
arteri yang tersumbat. Infark myocardium dapat berakibat nekrosis karena parut
atau fibrosis, dan mendatangkan kematian mendadak. (Barbara, 2013)
Dari ketiga pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Akut Miokard Infark
(AMI) merupakan suatu keadaan dimana terjadi kerusakan atau kematian otot
jantung yang disebabkan oleh karena berkurangnya atau terhambatnya aliran darah
koroner secara tiba-tiba atau secara tiba-tiba kebutuhan oksigen meningkat tanpa
disertai perfusi arteri koroner yang cukup.
2. ETIOLOGI
Menurut Nurarif
(2013), penyebab IMA yaitu :
a. Faktor penyebab :
1) Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :
a) Faktor
pembuluh darah : Aterosklerosis, spasme, arteritis.
b) Faktor
sirkulasi : Hipotensi, stenosos Aurta, insufisiensi.
c) Faktor
darah : Anemia, hipoksemia, polisitemia.
2)
Curah jantung yang meningkat :
a) Aktifitas
yang berlebihan.
b) Emosi.
c) Makan
terlalu banyak.
d) Hypertiroidisme.
3)
Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :
a) Kerusakan
miocard.
b) Hypertropimiocard.
c) Hypertensi
diastolic.
b. Faktor predisposisi :
1)
Faktor resiko biologis yang tidak dapat
diubah :
a) Usia
lebih dari 40 tahun.
b) Jenis kelamin: insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat
setelah menopause.
c) Hereditas.
d) Ras :
lebih tinggi insiden pada kulit hitam.
2)
Faktor resiko yang dapat diubah :
a) Mayor : hiperlipidemia, hipertensi, merokok, diabetes, obesitas, diet
tinggi lemak jenuh, aklori.
b) Minor :
inaktifitas fisik, pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius,
kompetitif), stress psikologis berlebihan.
3. KLASIFIKASI
Menurut Sudoyo (2012), klasifikasi IMA yaitu
sebagai berikut :
a. Berdasarkan lapisan otot yang terkena Akut Miokard Infark dapat
dibedakan:
1) Akut
Miokard Infark Transmural ® mengenai
seluruh lapisan otot jantung (dinding ventrikel).
2) Akut
Miokard Infark Non Transmural / Subendokardial Infark® infark otot jantung bagian dalam (mengenai sepertiga miokardium).
b. Berdasarkan tempat oklusinya pada pembuluh darah koroner :
1)
Akut Miokard Infark Anterior.
2)
Akut Miokard Infark Posterior.
3)
Akut Miokard Infark Inferior.
4. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik IMA menurut Nurarif
(2013), yaitu :
a. Lokasi substernal, rerosternal, dan prekordial.
b. Sifat
nyeri : rasa sakit seperti ditekan, terbakar, tertindih benda berat, ditusuk,
diperas, dan diplintir.
c. Nyeri hebat pada dada kiri menyebar ke bahu kiri, leher kiri dan lengan
atas kiri.
d. Faktor pencetus : latihan fisik, stress emosi, udara dingin, dan sesudah
makan.
e. Gejala yang menyertai : keringat dingin, mual, muntah, sulit bernafas,
cemas dan lemas.
f. Dispnea.
Adapun tanda dan gejala infark miokard
(TRIAS) menurut Oman (2008) adalah :
a. Nyeri :
1)
Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan
terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen
bagian atas, ini merupakan gejala utama.
2)
Keparahan nyeri dapat meningkat secaara
menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
3) Nyeri
dada serupa dengan angina, tetapi lebih intensif dan menetap (> 30 menit)
4) Nyeri
tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan
terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
5) Nyeri
mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional),
menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan
istirahat atau nitrogliserin (NTG).
6)
Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan
leher.
7) Nyeri
sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening
atau kepala terasa melayang dan mual muntah.
8) Pasien
dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati
yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman
nyeri).
b. Pemeriksaan Laboratorium
Peningkatan kadar enzim merupakan indikator
spesifik untuk IMA, kadar titer enzim-enzim ini mencerminkan luas IMA.
1)
CK (Kreatinin
Fosfokinase)
Pada IMA
konsentrasi dalam serum meningkat 6-8 jam setelah onset infark, mencapai puncak
setelah 24 jam dan turun kembali dalam waktu 3-4 hari. Enzim ini juga banyak
terdapat pada paru, otot skelet, otak, uterus, sel, pencernaan dan kelenjar
tiroid. Selain pada infark miokard, tingkat abnormalitas tinggi terdapat pada
penyakit otot, kerusakan cerebrovaskular dan setelah latihan otot.
2)
SGOT (Serum
Glutamic Oxalo-acetic Transaminase)
Terdapat terutama di jantung, otot skelet, otak, hati dan
ginjalDilepaskan oleh sel otot miokard yang rusak atau mati. Meningkat
dalam 8-36 jam dan turun kembali menjadi normal setelah 3-4 hari.
3)
LDH (Lactat
Dehidrogenase)
Enzim ini
terdapat di jantung dan eritrosit dan tidak spesifik. Dapat meninggi bila ada
kerusakan jaringan tubuh. Pada IMA konsentrasi meningkat dalam waktu 24-48 jam,
mencapai puncaknya dalam 3-6 hari dan bisa tetap abnormal 1-3 minggu.
Isoenzimnya lebih spesifik.
c. EKG
Perubahan
EKG yang terjadi pada fase awal adanya gelombang T tinggi dan
simetris. Setelah ini terdapat elevasi segmen ST. Perubahan yang terjadi kemudian ialah
adanya gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis. Nekrosis miokard
dilihat dari 12 lead EKG. Selama fase awal miokard infark akut, EKG
pasien yang mengalami oklusi total arteri koroner menunjukkan elevasi segmen
ST. Kemudian gambaran EKG berupa elevasi segmen ST akan berkembang menjadi
gelombang Q. Sebagian kecil berkembang menjadi gelombang non-Q. Ketika trombus
tidak menyebabkan oklusi total, maka tidak terjadi elevasi segmen ST. Pasien
dengan gambaran EKG tanpa elevasi segmen ST digolongkan ke dalam unstable
angina atau Non STEMI.
Infark
yang menunjukkan abnormalitas gelombang Q disebut infark gelombang Q. Pada
sebagian kasus infark miokard, hasil rekaman EKG tidak menunjukkan gelombang Q
abnormal. Hal ini dapat terjadi pada infark miokard dengan daerah nekrotik
kecil atau tersebar. Gelombang Q dikatakan abnormal jika durasinya ≥ 0,04
detik. Namun hal ini tidak berlaku untuk gelombang Q di lead III, aVR,
dan V1, karena normalnya gelombang Q di lead ini lebar dan dalam.
Pada
injury miokard, area yang terlibat tidak berdepolarisasi secara
sempurna. Area tersebut lebih positif dibandingkan daerah yang normal pada
akhir proses depolarisasi. Jika elektroda diletakkan di daerah ini, maka
potensial yang positif akan terekam dalam bentuk elevasi segmen ST. Jika
elektroda diletakkan di daerah sehat yang berseberangan dengan area injury,
maka terekam potensial yang negatif dan ditunjukkan dalam bentuk ST depresi. ST
depresi juga terjadi pada injury subendokard, dimana elektroda
dipisahkan dari daerah injury oleh daerah normal. Vektor ST bergerak
menjauhi elektroda, yang menyebabkan gambaran ST depresi.
Iskemik
miokard memperlambat proses repolarisasi. Area iskemik menjadi lebih negatif
dibandingkan area yang sehat pada masa repolarisasi. Vektor T bergerak menjauhi
daerah iskemik. Elektroda yang terletak di daerah iskemik merekam gerakan ini
sebagai gelombang T negatif. Iskemia subendokard tidak mengubah arah gambaran
gelombang T, mengingat proses repolarisasi secara normal bergerak dari epikard
ke arah endokard. Karena potensial elektrik dihasilkan repolarisasi
subendokardium terhambat, maka gelombang T terekam sangat tinggi.
Sadapan
dimana gambaran infark terlihat tergantung pada lokasi. Berdasarkan gelombang Q
patologis dan elevasi ST pada sedapan EKG, IMA dapat dibagi menjadi :
|
Lokasi Infark
|
Q-wave
/ Elevasi ST
|
A.
Koroner
|
|
Anteroseptal
Anterior
Lateral
Anterior
ekstrinsif
High
lateral
Posterior
Inferior
Right
ventrikel
|
V1
dan V2
V3
dan V4
V5
dan V6
I, a
VL, V1 – V6
I, a
VL, V5 dan V6
V7
– V9 (V1, V2*)
II,
III, dan a VF
V2R
– V4R
|
LAD
LAD
LCX
LAD /
LCX
LCX
LCX, PL
PDA
RCA
|
* Gelombang R yang tinggi dan depresi ST di V1
– V2 sebagi mirror image dari perubahan sedapan V7
– V9
LAD = Left Anterior
Descending artery
LCX = Left Circumflex
RCA = Right Coronary Artery
PL = PosteriorDescending
Artery
Adapun keluhan utama adalah nyeri dada
biasanya didaerah precordium anterior dirasakan seperti diremas-remas,
berat, tertekan dan terhimpit. Nyeri mulai dirasakan dari rahang, leher,
lengan, punggung dan epigastrium. Lengan kiri lebih sering terasa nyeri
daripada lengan kanan. Rasa sakit biasanya berlangsung lebih dari setengah jam
dan jarang berhubungan dengan aktivitas serta tidak hilang istirahat atau
pemberian nitrat. Nyeri disertai dengan rasa mual, muntah, sesak, pusing,
keringat dingin, berdebar-debar, gelisah, nyeri kepala berat dan sinkop. Sesak
nafas mungkin bersamaan dengan nyeri dada sebagai tanda kemampuan atau fungsi
vetrikel yang buruk pada keadaan iskemik akut. Nausea dan nyeri abdomen sering
dijumpai pada infark yang mengenai dinding inferior.
5. PATOFISIOLOGI
Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA
adalah komplikasi hemodinamik dan aritmia. Segera setelah terjadi IMA daerah
miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan
akibat penurunan ejection fraction, isi sekuncup (stroke volume) dan
peningkatan volume akhir distolik ventrikel kiri. Tekanan akhir diastolik
ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik. Peningkatan
tekanan atrium kiri di atas 25 mmHg yang lama akan menyebabkan transudasi
cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung). Pemburukan hemodinamik
ini bukan saja disebakan karena daerah infark, tetapi juga daerah iskemik di
sekitarnya. Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi,
khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergeik, untuk mempertahankan curah
jantung, tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Kompensasi
ini jelas tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami
iskemia atau bahkan sudah fibrotik. Bila infark kecil dan miokard yang harus
berkompensasi masih normal, pemburukan hemodinamik akan minimal. Sebaliknya
bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat
iskemia atau infark lama, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan
gagal jantung terjadi. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta
ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark
maupun yang non infark. Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel
yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia.
Perubahan-perubahan
hemodinamik IMA ini tidak statis. Bila IMA makin tenang fungsi jantung akan
membaik walaupun tidak diobati. Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang
tadinya iskemik mengalami perbaikan. Daerah-daerah diskinetik akibat IMA akan
menjadi akinetik, karena terbentuk jaringan parut yang kaku. Miokard sehat
dapat pula mengalami hipertropi. Sebaliknya perburukan hemodinamik akan terjadi
bila iskemia berkepanjangan atau infark meluas. Terjadinya penyulit mekanis
seperti ruptur septum ventrikel, regurgitasi mitral akut dan aneurisma
ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung.
Aritmia merupakan penyulit IMA
tersering dan terjadi terutama pada menit-menit atau jam-jam pertama setelah
serangan. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan masa refrakter, daya
hantar rangsangan dan kepekaaan terhadap rangsangan. Sistem saraf otonom juga
berperan besar terhadap terjadinya aritmia. Pasien IMA inferior umumnya
mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan akibat kecenderungan
bradiaritmia meningkat, sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior
akan mempertinggi kecenderungan fibrilasi ventrikel dan perluasan infark. (Price & Wilson, 2012)
7. KOMPLIKASI
Perluasan infark dan iskemia pasca infark,
aritmia (sinus bradikardi, supraventrikular, takiaritmia, aritmia ventricular,
gangguan konduksi), disfungsi otot jantung (gagal jantung kiri, hipotensi),
infark ventrikel kanan, defek mekanik, rupture miokard, aneurisma ventrikel
kiri, perikarditis, dan thrombus mural. (Nurarif, 2013)
8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Mansjoer (2011), pemeriksaan penunjang IMA sebagai berikut :
a.
EKG
Untuk mengetahui fungsi jantung : T Inverted,
ST depresi, Q patologis
b.
Enzim
Jantung
CPKMB (isoenzim yang ditemukan pada otot
jantung), LDH, AST (Aspartat aminonittransferase), Troponin I, Troponin T.
c.
Elektrolit.
Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi
dan kontraktilitas, misal hipokalemi, hiperkalemi
d.
Sel darah
putih
Leukosit (10.000 – 20.000) biasanya tampak
pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi
e.
Kecepatan
sedimentasi
Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI ,
menunjukkan inflamasi.
g.
GDA
Dapat menunjukkan hypoksia atau proses
penyakit paru akut atau kronis.
h.
Kolesterol
atau Trigliserida serum
Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.
i.
Foto / Ro dada
Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran
jantung diduga GJK atau aneurisma ventrikuler.
j.
Ecokardiogram
Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi,
gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.
DAFTAR PUSTAKA
Suyono (2013). Perawatan
Medikal Bedah (Suatu pendekatan Proses Keperawatan). Alih Bahasa :
Yayasan Ikatan Alumni pendidikan keperawatan pajajaran bandung cetak I.
Morton, (2012). Seri
skema diagnosis dan penatalaksanaan gawat darurat Medis. Cetakan I. Alih
Bahasa : widjaja kusuma Editor : Lyndon saputra. Binarupa Aksara . Jakarta
Nurarif
(2013), Buku ajar
Ilmu penyakit dalam. Jilid I Media Aesculapius. Jakarta
Price
& Wilson, 2012., Buku ajar keperawatan medical Bedah. Alih Bahasa Agus
waluyo dkk. Editor : Monica ester dkk. Cetakan I . Edisi 8.EGC. Jakarta
Harrah's Cherokee Casino & Hotel - Mapyro
BalasHapusHarrah's Cherokee 광주광역 출장샵 Casino 강릉 출장안마 & Hotel. 1 North Center Drive. Cherokee, 성남 출장안마 NC 28719. Directions · (800) 334-1000. Call Now · More Info. Hours, Accepts 익산 출장안마 Credit Cards, Parking, 광주 출장안마